Celana Kolor Bermotif Batik

Diminati Warga Perancis

SEJUMLAH negara di dunia kini tengah gandrung dengan produk Indonesia yang bernama batik. Perancis menjadi salah satu negara tujuan ekspor batik walaupun masih kalah dibandingkan negara lain, seperti Amerika Serikat, Belgia, Jerman, dan Inggris.

Apakah benar batik Indonesia digemari masyarakat yang tinggal di negara mode? Corak batik apa yang diminati? Berikut laporan Dini Kusmana Massabuau—penulis Citizen Journalism Tribun Kaltim—dari Perancis buat pembaca Tribun Kaltim.

MENGENAKAN pakaian batik di negara yang memiliki empat musim, memang serba repot. Ada beberapa kendala ketika harus memakai baju batik. Bahan dasar pakaian batik yang berasal dari kain katun atau sutra, rasanya tak mudah dipakai selain di musim panas.

Memang benar dari awal bulan Juni hingga akhir musim panas, pakaian batik banyak kita temukan di tempat-tempat turis, apalagi daerah pantai. Baju yang bercorak dan bermodel ceria ini menjadi sasaran empuk bagi para pelancong. Bila musim panas tiba, sebagian besar warga Perancis ingin tampil ceria. Ini menandakan kegembiraan mereka akan panasnya mentari yang membakar tubuh mereka nan pucat.

Namun bila musim dingin datang, pakaian batik sepertinya lenyap dari peredaran. Sebenarnya orang Perancis, bukan tipe manusia yang mau menggunakan pakaian bercorak. Mereka lebih menyukai warna-warni klasik dan gelap. Rasanya, Perancis tidak cocok dengan sebutan atau mendapat julukan sebagai negara pusat mode. Tapi begitulah adanya.

Di kota saya, Montpellier, ada sepasang suami istri yang menjual kerajinan (suvenir) Indonesia, tepatnya di Pantai Palavas. Sejak beberapa tahun lalu, Agus, sang suami berdarah Yogyakarta, sudah lama membuka toko bersama istrinya. Sang istri bernama Nathalie, berasal dari Perancis.

Bicara tentang pakaian batik, mereka mengakui bahwa produk dari Indonesia itu hanya bisa dijual ketika memasuki musim semi hingga datangnya musim gugur. Namun, untuk produk batik berupa dekorasi rumah atau hiasan kecil (suvenir) boleh dibilang tidak mengenal waktu. Karena alasan itulah, mereka tidak hanya menjual pakaian batik tapi juga produk lainnya berupa kerajinan khas Yogyakarta.

Pakaian batik yang dijual rata-rata model simpel. Seperti pakaian tanpa lengan untuk wanita, kain batik yang biasa dililitkan sebagai penutup tubuh buat berjalan-jalan di pinggir pantai. Dan paling tren sekarang ini adalah celana panjang dan pendek (kolor) bermotif batik.

Penggemarnya mulai anak-anak hingga dewasa baik pria maupun wanita. Kemeja batik pria dengan corak senada dan berwarna tak terlalu mencolok, juga sering menjadi sasaran warga Perancis. Sebagian besar pakaian batik yang laris manis adalah pakaian yang bisa dipakai untuk bermain-main di tepi pantai atau buat nyantai.
***
BERAPA harganya? Harga yang di tawarkan bervariasi. Mulai dari 10 euro hingga 45 euro per potong. Harga ini tidak terlalu mahal bagi pelancong yang menggunakannya hanya dalam satu musim. Sedangkan pakaian batik dengan model sedikit bervariasi atau rancangan tertentu, masih sulit dipakai masyarakat Perancis.

Hal ini saya ketahui setelah ngobrol dengan Daphne Barbedette, satu-satunya orang Perancis yang memiliki butik khusus menjual pakaian batik kreasi perancang Indonesia, seperti Carmanita dan Dewi Adby, di Paris. Menurut pemilik butik Wayang Lali ini, pakaian batik kreasi masih sulit dikonsumsi orang Perancis.

Apa penyebabnya? Selain di Perancis tidak ada budaya memakai pakaian batik untuk acara tertentu seperti di Indonesia, juga dikarenakan batik merupakan pakaian yang bermotif khusus. Akibatnya, masih banyak warga Perancis yang belum berani memakainya. Beda jika kain bermotif batik itu hanya berupa syal kecil. Rasanya lebih memungkinkan untuk dikonsumsi dan lebih mudah dipadukan dengan pakaian lainnya.

Lantaran beberapa faktor itulah, wanita yang bersuamikan pria Indonesia itu mengutarakan niatnya akan menutup butiknya dalam beberapa bulan mendatang. Padahal, usaha yang telah dirintisnya itu telah berdiri sejak tahun 2005. Sayang sekali…. Padahal di Perancis hanya dialah satu-satunya wanita yang berani membuka butik pakaian batik Indonesia.

Bangsa kita sendiri saja tidak ada yang berani. Hal itu saya ketahui lewat konsulat dan Kedutaan Indonesia. Menurut mereka, kebanyakan orang Indonesia yang berdagang di Perancis lebih suka menjual kerajinan Indonesia. Sedangkan toko yang khusus menjual pakaian batik, hampir tidak ada.

Berbeda dengan batik sebagai dekorasi rumah. Produk ini boleh dibilang mudah ditemui di toko-toko dekorasi dan tentunya tak mengenal musim. Kerajinan batik seperti inilah yang lebih banyak diimpor negara Perancis dari Indonesia. Dan ternyata kualitas dan corak batik Indonesia masuk dalam katagori terbaik di atas Malaysia.

Akibatnya, corak khas batik Indonesia takut dicontek oleh negara lain karena banyak yang belum memiliki hak paten. Untungnya bangsa Indonesia di Perancis masih setia dengan pakaian batik. Banyak para suami atau wanita Perancis yang menggunakan pakaian batik setiap menghadiri acara berbau ke-Indonesiaan. Mereka dengan bangga dan tanpa merasa sungkan. Saya hormat dan salut dengan sikap mereka yang mau menghargai karya bangsa Indonesia.

Dalam pikiran saya, andai saja mereka mengenal batik dan bagaimana proses pembuatannya, tentu saja banyak yang jatuh cinta dengan batik. Misalnya keluarga suami atau teman-teman saya, mereka selalu gembira dan bangga bila kami berikan oleh-oleh kain batik.

Biasanya, untuk memakainya mereka selalu menanyakan terlebih dahulu kapan pakaian batik ini harus dikenakan dan pada acara apa? Terakhir kali sahabat saya Charlotte datang untuk jamuan makan di kediaman kami. Ia terlihat semakin anggun saat mengenakan blouse dan selendang batik oleh-oleh dari saya. Kalau tidak percaya, lihat betapa manis dan cantiknya wanita itu saat mengenakan pakaian batik Indonesia…. Memang bila sudah mengenal, pasti ada rasa sayang dan rasa memiliki….